“Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitam. 0. Taka da warna…. Senyap! Melati hanya mendengar senyap. Sepi. Sendiri. Tak ada nada….” “Buku ini akan membuat anda lebih mencintai Allah dan hamba-hamba-Nya. Jangan menjadi orang yang merugi karena tidak mendapatkan ‘ilmu’ dari buku ini.” (Ratih, sang penulis buku “Kerudung Praktis”) “Dengan gaya bahasa yang unik dan sarat m…
Kapan terahir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya? Inilah kisah seorang anak yang di besarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. …
Dia bisa ke mana pun dia mau, tidak bisa pergi kapan pun dia ingn pergi, tidak ada pintu, dinding, yang bisa menahannya, jangan dibicarakan, jangan dibahas, jangan diganggu. Maka mereka tidak akan mengganggu kita. Sesuk. Kamu akan tahu, apa dan kenapa… kamu akan tahu, siapa dan mengapa… semua kewadian… semoga itu belum terlambat.
"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan demi masa lalu, pertarungan hidup dan mati, untuk memutuskan kemana langkah kaki akan dibawa. Pergi."
Kita hanya punya sepotong hati, bukan? Satu-satunya. Lantas bagaimana kalau hati itu terluka. Disakiti justru oleh orang yang kita cintai? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya? Apakah luka itu bisa pulih, tanpa bekas? Atau jangan-jangan, kita harus menggantinya dengan sepotong hati yang baru. Semoga datanglah pemahaman baik itu. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah special. Sama spes…
Di Negeri di ujung tanduk kehidupan semakin rusak. Bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi, di negeri di ujung tanduk para penipu menjadi pemimpin, para penghianat menjadi pujaan. Bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendiri tapi setidaknya, kawan, di negeri di u…
“Ada Jodoh yang ditemukan lewat tatapan pertama. Ada persahabatan yang diawali lewat sapa hangat. Bagaimana jika takdir bersama ternyata, diawali dengan pertarungan mematikan? Lantas semua cerita berkelindan dengan, pengejaran demi pengejaran mencari jawaban? Pulang – Pergi.”
Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian? Bukankan berlalunya waktu semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu-begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas saat dikenang. Sebenarnya, apakah pengorbanan memilik harga dan batasan? Atau priceless, tidak terbeli dengan uang, kerana kita lakukan hanya…
Di Negeri para bedebah, kisah giksi kalah seru dibanding kisah nyata. Di negeri pada bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah Tetapi setidaknya, kawan, di negeri para bedebah petarung sejati tidak akan pernah berkhianat
Apakah memaafkan itu mudah diberikan? Apakah melupakan itu ringan dilakukan? Sayangnya, itu sering kali lebih enteng diucapkan, tapi di hati terdalam tetap begitulah. Bagaimana caranya kita memluk erat semua rasa marah, benci, sakit hati, ketika itu bahkan baru mulai dibicarakan saja sudah menyakitkan? Bagaimana berdamai dengan situasi tersebut? Inilah novel tentang "rasa" Berbagai ra…
"Buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang lain? Buat apa kami mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain? Kekhawatiran, juga kecemasan yang sejatinya mungkin tidak pernah ada". Tentang seorang kakak yang mengorbankan apa pun agar adik-adiknya bisa sekolah. Tentang rasa sabar dan penerimaan. Tentang keluarga yang penuh perjuangan. Dulu, sekarang, hingga kapan pun, dia adalah kakakku.